🐶 Biografi Tokoh Wayang Dalam Bahasa Jawa

PENGEMBANGANMULTIMEDIA UNTUK PENGENALAN TOKOH WAYANG DALAM PEMBELAJARAN BAHASA JAWA oleh: Nurlaili, Aulia Fithri, et al. Terbitan: (2016) Penggunaan media wayang kulit untuk meningkatkan pemahaman karakter cinta tanah air mata pelajaran bahasa Jawa siswa kelas IV A SDN Kepanjenlor 2 Blitar / Aulia Fithri Nurlaili oleh: Nurlaili, Aulia Fithri
- Wayang orang atau wong bahasa Jawa mementaskan cerita tentang Ramayana dan Mahabarata. Dalam pementasannya, wayang orang tidak hanya menyajikan hiburan melainkan juga menyampaikan pesan-pesan moral yang dapat diserap orang berbeda dengan pementasan drama lainnya. Masing-masing pemain wayang wong memiliki ciri estetis tersendiri yang menggambarkan peran yang dibawakan dalam sebuah gerakan, tata rias, tari, hingga busana yang dikenakannya. Asal-usul Wayang Orang Wayang orang berkembang bersama dengan wayang kulit. Keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Keberadaan tari yang mengisahkan cerita wayang telah disebutkan pada prasasti Wimalasmara di Jawa Timur yang berangka 930 tersebut menyebut wayang wwang dalam bahasa Jawa Kuno kawi, wayang berarti bayangan wwang berarti manusia. Baca juga Rahvana Sveta di Atas Panggung Gedung Wayang Orang Sriwedari, Memukau... Drama tari yang berasal dari Mataram Kuno di Jawa Tengah ini dilestarikan oleh kerajaan-kerajaan penerusnya seperti Kediri, Singasari, dan Majapahit. Saat Kerajaan Mataram Islam dibagi menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada 1755, Sri Sultan Hamengku Buwono I 1755-1792 sebagai pendiri dan raja pertama Kesultanan Yogyakarta mengubah dan mencipta ulang kesenian tersebut. Tokoh Rahwana dalam pementasan Ravana Sveta yang digelar di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Surakarta. Saat Kerajaan Mataram Islam dibagi menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada 1755, Sri Sultan Hamengku Buwono I 1755-1792 sebagai pendiri dan raja pertama Kesultanan Yogyakarta, mengubah dan menciptakan ulang kesenian wayang orang.
BiografiTokoh Dalam Bahasa Sunda Tugas Basa Sunda BIOGRAFI Tugas Biografi Nama : Aly Ramdhani Kelas : X-MIA 2 02 SMAN 10 Bandung. ASAL USUL TANAH JAWA Cerita Lahirnya SEMAR.. DELEGASI INDONESIA PADA EVENT ASEAN Pagelaran Wayang Kulit dengan Lakon Lahire Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong). Dipentaskan dalam
Kata wayang dalam bahasa Jawa berarti “bayangan” atau “bayang-bayang”. Wayang purwa adalah salah satu jenis seni drama Jawa, yang menggunakan boneka wayang kulit sebagai media penyampaian cerita dramatiknya. Bayangan boneka wayang kulit itu dapat dilihat dari balik kelir atau layar. Kata “purwa”, menurut Hazeu, berasal dari bahasa Sansekerta “purwa” yang berarti pertama’ atau ’yang terdahulu’. Sedang menurut Van der Tuuk, berasal dari kata “parwa”, namun telah dikacaukan dengan kata “purwa”. Ia dan Brandes membandingkan dengan penamaan wayang di Bali yang disebut wayang parwa prawa Mulyono, 1978 5. Di antara jenis seni pertunjukan wayang, yang paling populer dan paling luas daerah persebarannya di kalangan masyarakat Jawa adalah wayang kulit atau wayang purwa itu. Jenis wayang ini telah berumur sangat tua dan telah mengalami perkembangan dari masa ke masa baik perkembangan bentuk boneka wayangnya, ceritanya, maupun teknik penggarapan pementasannya Pada era elektronik ini wayang purwa sering ditayangkan di media radio, TV, VCD atau DVD. a. Sumber-sumber Cerita Wayang Purwa Pada prasasti Balitung telah disinggung adanya lakon Bimaya Kumara, tidak jelas bagaimana cerita itu. Namun saat ini yang dapat ditemukan dalam cerita wayang purwa, hampir semuanya berasal dari kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana yang semula merupakan kitab suci Hindu. Bila diteliti lebih lanjut, sebenarnya telah banyak terjadi penyimpangan cerita lakon wayang dari sumber Mahabharata dan Ramayana aslinya, yang tampaknya memang gubahan orang Jawa, baik berasal dari kakawin, berupa kreasi dalang tertentu sanggit atau memang penciptaan lakon carangan. Pada masa Jawa Kuna disalin dan digubah cerita-cerita pewayangan, antara lain Arjuna Wiwaha Kakawin, Bhomakawya Kakawin, Bharatayudha Kakawin, Hariwangsa Kakawin, Parthayadna Kakawin, Dewaruci Kakawin, Sudamala, dsb. Saat ini ditemukan beberapa buku yang diyakini sebagai sumber cerita wayang purwa, yakni 1 Serat Pustaka Raja Purwa karya Ranggawarsita gaya Surakarta. 2 Serat Padhalangan Ringgit Purwa karya Mangkunegara VII gaya Surakarta 3 Serat Kandha atau Serat Purwakandha gaya Yogyakarta 4 Serat Pedhalangan Ringgit Purwa Pancakaki Klaten gaya Yogyakarta 5 Serat Babad Lokapala Sumber-sumber cerita tersebut oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai babon cerita wayang. Dewasa ini banyak ditulis lakon-lakon wayang, dan bila muncul cerita-cerita baru atau cerita-cerita yang menyimpang jauh dari sumber-sumber tersebut, sering dianggap sebagai cerita atau lakon carangan. Pada akhir-akhir ini sebenarnya banyak sekali hasil karya sastra pewayangan yang mungkin juga dipergunakan oleh dalang tertentu sebagai sumber cerita pementasannya, baik berupa lakon pokok atau lakon carangan. Dari berbagai sumber cerita yang ada, dan dari segi bentuknya dapat diklasifikasikan sbb. 1 Cerita wayang dalam bentuk prosa yang ditulis sebagai roman panjang yang bersumber dari Ramayana atau Mahabarata, baik untuk tuntunan pertunjukan atau untuk bacaan. Misalnya Pustaka Raja Purwa, Serat Purwakandha, dsb. 2 Cerita wayang yang diambil dari bentuk lakon, masih tampak pembagian adegan-adegannya, ditulis dalam bentuk tembang, misalnya Serat Wahyu Makutha Rama Sekar karya Siswaharsaya, Serat Pakem Bima Bungkus karya Mangun Wijaya atau Serat Bima Bungkus karya Can Cu An, dsb. 3 Pakem jangkep atau pakem padhalangan jangkep wayang purwa, yang berisi tuntunan atau pedoman lengkap untuk pertunjukan wayang purwa dalam satu lakon. Pada bentuk ini berisi pembagian adegan, kandha, janturan, antawecana, gendhing dan sasmitaning gendhing, tokoh-tokoh wayang yang harus dipentaskan, dsb. secara lengkap. Misalnya Pakem Jangkep Lampahan Sumbadra Larung, Pakem Jangkep Lampahan Suryatmaja Maling, dsb. 4 Pakem balungan wayang purwa, yang berisi ringkasan atau kerangka pokok adegan-adegan lakon wayang sebagai tuntunan atau pedoman pertunjukan wayang purwa. Dalam satu buku biasanya berisi lebih dari satu lakon. Misalnya Serat Padhalangan Ringgit Purwa karya Mangkunegara VII. 5 Cerita bersambung wayang purwa, yang biasanya ditulis secara bersambung dalam beberapa terbitan majalah berbahasa Jawa. Biasanya bentuk ini ditulis dalam bentuk prosa dengan bahasa populer. 6 Bentuk banjaran, yang menekankan pada cerita biografi tokoh-tokoh wayang tertentu. Dengan kata lain alurnya dipusatkan pada satu tokoh. Misalnya Banjaran Karna, Banjaran Bisma, dan banjaran-banjaran tokoh lainnya. 7 Analisa atau kupasan tentang hal-ihwal wayang purwa. Dalam hubungannya dengan sumber induknya, yakni Ramayana dan Mahabharata, dalam wayang purwa tersebar tiga jenis lakon, yakni 1 lakon baku, 2 lakon sempalan dan 3 lakon carangan. Lakon baku, yaitu lakon yang diangkat dari cerita induknya, yakni dari Ramayana atau Mahabharata. Lakon Sempalan, yaitu lakon yang dikembangkan dari sebuah peristiwa yang termuat dalam Ramayana atau Mahabharata. Adapun lakon carangan adalah lakon karangan yang sepenuhnya digubah dengan menggunakan tokoh-tokoh pelaku dari Ramayana atau Mahabharata. b. Unsur-unsur Sastra Wayang Purwa dan Konvensi-konvensinya Berdasarkan pada beberapa penjelasan di atas tampak bahwa wayang purwa telah berumur panjang dan memiliki tradisinya sendiri. Wajarlah bila sastra wayang purwa memiliki berbagai konvensi yang sangat mengikat. Wibisono, 1987 8. Pada gilirannya berbagai konvensi yang ada akan tampak pada berbagai unsur sastra wayang. Oleh karena itu di bawah ini perlu dibicarakan unsur-unsur sastra wayang dan berbagai konvensinya. 1. Tema dalam Wayang Purwa Tema umum yang dijumpai dalam lakon wayang adalah melukiskan pertentangan antar pihak protagonis melawan pihak antagonis dengan akhir kemenangan di pihak protagonis. Cerita wayang purwa, baik siklus Mahabharata maupun Ramayana di Jawa berakhir dengan kemenangan pihak protagonis. Demikian pula penggalan-penggalan cerita yang berbentuk lakon untuk pertunjukan wayang purwa semalam, pada umumnya juga berakhir dengan kemenangan pihak protagonis. Namun, ada juga satu dua lakon yang berakhir tragis pada pagi hari, terutama pada lakon-lakon perang besar Bharatayuda, misalnya dalam gaya Yogyakarta dalam lakon Seta Gugur, Gatutkaca Gugur, Abimanyu Gugur, Paluhan, dsb. Tema-tema dalam lakon wayang sebenarnya dapat diklasifikasikan antara lain sebagai berikut. 1 Tema kelahiran, misalnya lakon Bima Bungkus Laire Bima, Laire Abimanyu, Laire Wisanggeni, Laire Gathutkaca, Laire Parikesit, dsb. 2 Tema Pernikahan, atau tema alap-alapan, misalnya lakon Alap-alapan Surtikanti Suryatmaja Maling, yakni pernikahan Suryatmaja, Alap-alapan Drupadi pernikahan Puntadewa, Rabine Gathutkaca, Parta Krama pernikahan Arjuna dengan Wara Subadra, dsb. 3 Tema kematian, misalnya lakon Gathutkaca Gugur, Ranjapan Abimanyu Gugur, Bisma Gugur, Aswatama Lena, Somba Sebit kematian Somba, dsb. 4 Tema Wahyu, misalnya lakon Wahyu Makutharama, Tumurune Wahyu Manik Imandaya Godhong Pancawala, Wahyu Padmasana Manik, Wahyu Purba Sejati, dsb. 5 Tema hancurnya kerajaan tertentu, misalnya lakon Bedhahe Dwarawati hancurnya kerajaan Dwarawati dengan rajanya Prabu Padmanaba, oleh Kresna, Bedhahe Amarta, menceritakan hancurnya negara Amarta milik para jin oleh para Pandawa Babad Alas 6 Tema murca, yakni menceritakan pusaka atau tokoh tertentu yang hilang atau pergi meningglkan istana tanpa pamit. 7 Tema begawan atau pandita palsu, pada umumnya begawan itu terjadi dari sukma atau yitmane Dasamuka, Batara Guru atau Batari Durga yang hendak membunuh para Pandawa, atau dari raja raksasa, atau justru terjadi dari kerabat Pandawa atau Kresna yang hendak menyelamatkan Pandawa dari fitnah Korawa, misalnya lakon Begawan Kilat Buwana, Begawan Suryandadari, dsb. 8 Tema membangun, yakni membangun taman, candi, istana dan sebagainya. Contohnya lakon Semar Mbangun Kahyangan, Mbangun Taman Maerakaca, Mbangun Candhi Saptarengga, Semar Mbangun Jatidhiri, dsb. 9 Tema jumenengan, yakni tentang penobatan raja tertentu. Misalnya Jumenengan Parikesit, Gathutkaca Madeg Ratu, dsb. 10 Tema duta, yakni tentang perjalanan seorang utusan raja. Misalnya lakon Anoman Duta, Kresna Duta, Drupada duta, Anggada Duta, dsb. 11 Tema ngenger, yakni tentang tokoh yang mengabdi pada raja tertentu. Misalnya Sumantri Ngenger, Trigangga Suwita, Wibisana Balik, dsb. 12 Tema boyong, yakni tentang perpindahan tempat bagi tokoh-tokoh tertentu. Misalnya lakon Semar Boyong, Pandhawa Boyong, Sri Mulih, dsb. 13 Tema takon bapa, yakni tentang tokoh-tokoh kesatria, atau panakawan yang menanyakan siapa sebenarnya ayahnya. Misalnya lakon Antasena Takon Bapa, Petruk Takon Bapa, Tirtanata Takon Bapa, atau anak-anak Arjuna yang mencari tahu siapa ayahnya, dsb. 14 Tema tentang surga, yakni tokoh-tokoh kesatria yang dengan bertapa, dsb., sehingga dapat naik ke kahyangan untuk menanyakan tentang surganya atau surga bagi orang tuanya. Misalnya lakon Anoman Takon Swarga, Pandhawa Swarga, Pandhu Swarga, dsb. 15 Tema tentang pertalian Ramayana dengan Mahabharata. Misalnya lakon Semar Boyong, Rama Nitik, Rama Nitis, Wahyu Makutharama, dsb. 17 Tema sesaji, yakni sesaji tertentu untuk memenuhi persyaratan tertentu. Misalnya lakon Sesaji Rajasuya. 18 Tema perjudian, misalnya lakon Pandhawa Dhadhu. 19 Tema banjaran, yakni tema yang menekankan biografi tokoh tertentu. Misalnya lakon Banjaran Karna, Banjaran Bima, Banjaran Gathutkaca, dsb. 2. Alur atau Plot dalam Lakon Wayang Purwa Pada umumnya karya sastra pedalangan atau lakon wayang purwa terikat oleh urut-urutan adegan secara konvensional. Urutan adegan dalam tradisi pedalangan Surakarta, misalnya, selalu diawali dengan jejer, disusul adegan gapuran, kedhatonan, paseban jawi, sabrangan, perang gagal, adegan pertapan, perang kembang, sampak tanggung, adegan manyura, perang brubuh, dan tancep kayon Wibisono, 1987 11. Urutan adegan gaya Surakarta yang lebih terinci dapat dirumuskan sebagai berikut bdk. Sri Mulyono 1979 111-113. 1 Periode pathet nem, dibagi menjadi 6 adegan jejeran a. Jejeran raja yang dilanjutkan dengan kedhatonan, yaitu setelah selesai bersidang, raja disambut permaisuri untuk bersantap bersama. b. Adegan Paseban Jawi, yakni patih mewartakan hasil sidang kepada prajurit c. Adegan jaranan pasukan binatang d. Adegan Perang ampyak menghadapi rintangan diperjalanan e. Adegan sabrangan, yaitu adegan raksasa dari negeri lain f. Perang gagal, yaitu perang yang belum diakhiri dengan kemenangan dan kekalahan, atau berpapasan saja, atau mencari jalan lain 2 Periode pathet sanga dibagi menjadi tiga adegan a. Adegan bambangan, yakni seorang kesatria berada di tengah hutan atau menghadap seorang pendeta b. Perang kembang, yakni perang antara raksasa melawan kesatria yang diikuti panakawan c. Adegan sintren, yaitu adegan kesatria yang sudah menetapkan pilihannya dalam menempuh jalan hidup 3 Periode pathet manyura, dibagi menjadi tiga adegan a. Jejer manyura. Dalam adegan ini tokoh utamanya sudah menetapkan tujuan hidupnya, sudah dekat dengan yang dicita-citakan b. Perang brubuh, yakni adegan perang yang berakhir dengan kemenangan dan banyak korban c. Tancep kayon, yakni setelah tarian Bima atau Bayu, gunungan atau kayon ditancapkan di tengah kelir. Diakhiri dengan tarian golekan boneka. Pembagian adegan gaya Surakarta tersebut sedikit berbeda dengan pembagian adegan gaya Yogyakarta. Bila disimak lebih jauh, perbedaan yang mendasar dalam pembagian adegan adalah sering munculnya tamu pada adegan pertama pada gaya Yogyakarta. Adanya tamu ini menyebabkan adegan kedua dan ketiga sedikit berbeda dengan gaya Surakarta. Di samping itu perbedaan yang lain adalah nama perang yang terjadi. Gaya Yogyakarta pada perang setelah jejer kedua disebut perang simpangan, perang setelah jejer ketiga disebut perang gagal. Hingga jejer ketiga dalam gaya Yogyakarta belum terjadi korban kematian dalam perang. Jejer ketiga diikuti adegan gara-gara. Kemudian jejer keempat, dan seterusnya yang bila dilihat dari adegannya hampir sama bdk. Mudjanattistomo, dkk. 1977, jilid I 163-166. Contoh gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta di atas, pada dasarnya hanya menegaskan bahwa alur dramatik wayang purwa yang menyangkut pembagian adegan-adegannya sangat terikat oleh konvensi yang berlaku pada masing-masing gaya yang ada. 3. Penokohan dalam Wayang Purwa Dalam hubungannya dengan penokohannya, wayang purwa juga memilliki konvensi yang sangat ketat. Seorang pengamat pewayangan mencatat bahwa aspek penokohan dalam wayang purwa, bahkan wayang pada umumnya, tidak menyimpang dari tradisi pedalangan. Keakraban penonton dengan tokoh-tokoh wayang dan karakternya begitu jelas. Baik dalang maupun penonton sama-sama mengenal konvensi dalam penokohan. Apabila terjadi penyimpangan pemerian oleh seorang dalang atau penulis tentang tokoh-tokoh tertentu, maka penonton atau pembaca akan memberikan reaksi sebagai tindak koreksi Wibisono, 1987 8. Konvensi penokohan dalam wayang tersebut sejalan dengan yang disimpulkan oleh Kuntowijoyo 1984 127-129, yakni bahwa dalam sastra tradisional, tokoh tidak dibangun atas perkembangan logis dari kejiwaan pelaku-pelakunya, tetapi atas dasar perkembangan kejadian menurut penuturannya. Personalitas dibentuk untuk melancarkan kejadian, sedang kejadian-kejadian tidak mempengaruhi personalitas. Jadi para pelakunya tidak mengalami perkembangan kejiwaan, hanya mengalami perkembangan kejadian. Sastra di sini bertindak sebagai simbol dari pikiran kolektif, tanpa memberi kebebasan bagi perkembangan personalitas tokoh-tokohnya. Perwatakan tokoh-tokoh itu menurut pola sebuah karakter sosial, bukan karakter individual. Dengan perkataan lain, pikiran kolektif secara apriori telah menentukan sejumlah tipe ideal bagi tokoh-tokoh cerita. Penokohan dalam wayang, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tujuh kelompok, yakni kesatria, raksasa, dewata, pendeta atau brahmana, para abdi, dan binatang yang dapat berbicara. Setiap kelompok ada yang bersifat baik dan ada yang bersifat Jahat. Namun demikian pada umumnya dapat dikatakan sebagai berikut bdk. Deskripsi perwatakan yang dituliskan Brandon dan Magnis Suseno, dalam Suseno, 1982 18-19. Pada kelompok kesatria, dalam siklus Mahabharata, pada umumnya kesatria Pandawa berwatak baik dan para Korawa sebaliknya. Pada siklus Ramayana, kelompok kesatrianya hanya ada beberapa, yakni keluarga Prabu Rama dan adik Rahwana yakni Wibisana, semuanya relatif berwatak baik. Pada kelompok raksasa, sebenarnya bisa dikelompokkan menjadi tiga, yakni sebagai berikut. 1 Raksasa yang mempunyai riwayat hidup sekali saja. 2 Raksasa yang sekedar dipergunakan untuk pengisi adegan. 3 Raksasa besar penjelmaan tokoh-tokoh tertentu. Raksasa pada kelompok pertama, pada umumnya hanya muncul pada lakon-lakon yang memang berhubungan dengan cerita hidupnya. Raksasa kelompok ini biasanya mati hanya pada lakon yang memang bercerita dalam hubungannya dengan kematiannya. Dengan kata lain ia memang hidup dan mati sekali saja. Pada umumnya raksasa memang digambarkan berwatak jahat, tetapi raksasa pada kelompok ini ada sebagian yang memiliki watak terpuji dari sisi tertentu. Kumbakarna, adik Rahwana, misalnya, dianggap terpuji karena nasionalismenya. Contoh lainnya Bagaspati, raksasa pendeta, ia rela menyerahkan nyawanya demi kebahagiaan Dewi Pujawati, anak puterinya, karena Narasoma, calon menantunya, tidak mau mempunyai mertua raksasa. Contoh lain lagi ialah Sukasrana, raksasa kecil adik Sumantri, yang sangat mengasihi kakaknya sehingga mau memindahkan taman Sriwedari demi kepentingan kakaknya. Namun Sukasrana harus mati juga demi kesenangan kakaknya, Sumantri. Masih ada lagi yang lainnya seperti kecintaan Kalabendana pada Gathutkaca, dsb. Raksasa pada kelompok kedua, ia hidup selalu dalam keadaan telah dewasa, tidak pernah diketahui kapan kelahirannya dan siapa orang tuanya. Boleh jadi ia muncul dalam cerita apapun dan mati dalam cerita apa pun juga dalam lakon yang sama, karena keberadaannya hanya dipakai sebagai pengisi pada adegan tertentu saja. Nama tokoh-tokoh raksasa pada kelompok kedua ini dapat bermacam-macam, tetapi biasanya merupakan teman-teman raksasa yang bernama Cakil, atau Gendring Penjalin, yang berjumlah empat raksasa. Kelompok raksasa ini bagi orang Jawa sering dianggap sebagai simbolisasi dari empat nafsu manusia, sehingga perwatakannya memang jahat. Raksasa pada kelompok ketiga, yakni raksasa besar penjelmaan tokoh-tokoh tertentu. Raksasa besar ini biasanya, pada lakon yang sama, muncul dan kemudian kembali pada wujudnya yang sesungguhnya, yang dalam bahasa Jawa disebut badhar. Misalnya penjelmaan Sri Kresna, penjelmaan Puntadewa, dsb. Perwatakan raksasa ini sekaligus merupakan perwatakan tokoh aslinya. Pada kelompok dewata, pada umumnya berwatak baik. Namun demikian sebagian dewa sering kali diceritakan sebagai tokoh yang mudah menerima hasutan atau perminta-tolongan para Korawa, sehingga berwatak tidak baik. Bila para dewa berbuat jahat kepada para Pandawa biasanya yang mengalahkan adalah Semar, tokoh abdi Panakawan. Ada golongan dewa yang tidak pernah muncul dalam lakon wayang namun keberadaannya diakui sebagai penguasa tertinggi, yakni Sang Hyang Wenang. Para brahmana atau pendeta pada umumnya berwatak baik. Namun banyak juga lakon yang menceritakan tentang pendeta palsu, yang merupakan penjelmaan dari Dasamuka. Pendeta palsu ini selalu berwatak jahat. Dalam Mahabharata, pendeta Durna sering digambarkan baik, tetapi karena berada di pihak Korawa, sering juga digambarkan berwatak jahat. Tokoh para abdi bisa dikelompokkan menjadi dua, yakni para abdi tokoh protagonis dan para abdi tokoh antagonis. Abdi tokoh protagonis biasanya adalah para Panakawan, yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, yang biasanya digambarkan berwatak baik tetapi sering nakal sembrana. Sedang abdi antagonis biasanya Togog dan Mbilung atau Saraita, yang sering juga digambarkan berwatak jahat. Pada kelompok binatang yang ada pada wayang purwa, ada beberapa binatang yang mempunyai biografinya, tetapi juga ada yang sekedar pengisi adegan. Tokoh-tokoh binatang dalam wayang purwa pada umumnya berwatak baik. Tokoh burung Jatayu dalam Ramayana berwatak baik. Tokoh-tokoh kera dalam Ramayana pada umumnya juga berwatak baik. Di samping penggambaran secara umum seperti di atas, konvensi penokohan dalam wayang purwa telah memberikan perwatakan pada masing-masing tokoh utama secara khusus. Tokoh Werkudara, misalnya, mempunyai watak pemberani, gagah perkasa, jujur, dsb. Arjuna, berwatak halus, pemberani, dsb. Sengkuni, berwatak nakal, penghasut, curang, dsb. Dan sebagainya yang hampir semuanya bersifat stereotip atau tetap dari masa kanak-kanaknya hingga usia dewasanya. Tidak mengherankan bila dalam cerita kelahiran Bima, sejak lahir Bima telah mengenakan berbagai pakaian pelengkapan yang melambangkan perwatakannya. 4. Latar dalam Drama Wayang Purwa Konvensi dalam wayang purwa dalam hubungannya dengan unsur latar cerita setting, mencakup aspek ruang atau tempat, waktu, dan suasana. Dalam hal latar tempat, pada dasarnya latar tempat dalam cerita wayang dapat dibagi sebagai berikut. 1 Tempat di Madyapada yakni di dunia ini. 3 Di Lokantara, yakni tempat nyawa atau jiwa yang masih melayang-layang nglambrang. Di Madyapada dapat terjadi 1 di dalam istana, 2 di keputren, 3 di paseban jawi, 4 di hutan, 5 di Blabar Kawat, yakni arena pertengkaran atau mengadu kesaktian, 6 di pertapaan, dsb. Pada masing-masing tempat itu dapat terjadi di atas bumi, di angkasa atau di langit yakni tempat para tokoh tertentu terbang, dan di dasar bumi sajroning pratala, yakni tempat tokoh-tokoh tertentu amblas di bawah bumi. Tokoh yang dapat terbang antara lain Gathutkaca dan Kresna. Tokoh yang dapat amblas di dasar bumi antara lain Antareja. Dalam lakon apa pun masing-masing tempat tersebut digambarkan secara stereotip. Dalam aspek waktu, wayang purwa tidak pernah memberikan penjelasan waktu secara riil, kecuali hanya disebutkan jaman purwa atau jaman dulu kala. Namun demikian dalam hubungannya dengan para abdi, perbincangan para abdi para Panakawan, Limbuk dan Cangik, Togog dan Mbilung atau para Cantrik di pertapaan dapat menggunakan latar waktu terkini dan dengan pembicaraan dalam hubungannya dengan masyarakat penontonnya. Dalam aspek suasana, terdapat penggambaran suasana alam atau suasana kejiwaan tokoh-tokohnya, yang dapat digambarkan secara realis atau bombastis. Suasana sedih dan gembira, dapat saja digambarkan secara realis. Namun suasana keindahan istana, dapat saja digambarkan secara bombastis, misalnya air selokan yang mengalir dari istana menebarkan bau harum hingga di pedesaan, dsb. Latar suasana dalam lakon atau pergelaran wayang dapat ditunjang dengan karakteristik isi suluk seorang dalang. Suluk adalah nyanyian atau lagu vokal yang diucapkan oleh seorang dalang bdk. Soetandyo, 2002 121. Berbagai konvensi yang ada dalam wayang purwa, pada akhirnya berpengaruh pada berbagai bentuk drama Jawa yang lainnya, terutama drama tradisional. Dengan demikian seyogyanya para pengkaji drama tradisional melongok berbagai konvensi yang ada dalam wayang purwa, sebagai alternatif penyempurnaan sudut pandangnya.
Daerahyang pertama-tama membawakan wayang Golek adalah Cirebon dengan bahasa yang digunakan saat itu masih berbahasa Jawa Wayang Golek yang digunakan pada masa Panembahan Ratu di Cirebon adalah Wayang Golek Papak/cepak, yang berciri khas bentuk kepala yang papak atau datar. Pada masa Pangeran Girilaya (1650-1662) Wayang Golek Papak mulai
5 Contoh Cerita Wayang Dalam Bahasa Jawa Singkat dan Terjemahannya – Ide untuk membuat cerpen dapat datang dari mana saja. Salah satunya dapat dengan mengambil dari sempalan atau fragmen dalam kitab babon wayang seperti Mahabarata dan Ramayana. Berikut ini mamikos akan berikan contoh 5 contoh cerita wayang dalam bahasa Jawa singkat dan terjemahannya. Tentang Cerita WayangDaftar IsiTentang Cerita Wayang1. Sedhih lan Lungane Yuyutsu2. Panerus Sejati Rahwana3. Sinta Putri Rahwana4. Kumbakarna Maju Perang5. Karna Putra Dewi Kunti Daftar Isi Tentang Cerita Wayang 1. Sedhih lan Lungane Yuyutsu 2. Panerus Sejati Rahwana 3. Sinta Putri Rahwana 4. Kumbakarna Maju Perang 5. Karna Putra Dewi Kunti Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa wayang berbeda dengan cerita wayang. Wayang merupakan media, sementara cerita wayang adalah konten dari wayang. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa cerita wayang biasanya merupakan sempalan atau suatu fragmen dari epos Mahabharata dan Ramayana. Dengan berbagai fragmen yang ada di dalam epos tersebut, tentu setiap bagiannya bisa dipisah lalu dikreasikan menjadi sebuah cerita wayang. Untuk contoh cerita wayang selengkapnya bisa kamu simak di bawah berikut ini. 1. Sedhih lan Lungane Yuyutsu Contoh Cerita Wayang 1 Nalika perang Baratayuda kang dumadi ing Tegalkurusetra ngancik dina kang kaping wolulas. Abimanyu kapilih dadi senopati perang. Senajan abot merga kudu ninggalake Dewi Utari kang lagi ngandhut tuwa lan Dewi Siti Sendari kang nembe wae dirabi. Nanging tugas suci dadi Senapatine Pandhawa kudu ditindakake Abimanyu. Weruh kang maju dadi senopati ing pihake pandhawa iku Abimanyu. Pihak Kurawa langsung nganggo formasi perang kang aran cakrabyuha kanggo ngalahake Abimanyu. Sawise formasi cakrabyuha dicakake. Pihak Kurawa ngupayakake supaya Abimanyu kapisah saka pasukane, Sawise kasil dipisahake karo pasuane. Abimanyu dikiter atusan prajurit Kurawa lan para senapati perang saka pihak Kurawa. Amarga kalah cacah. Wusanane Abimanyu kasil ditiwasake kanthi kahanan kang nrenyuhake. Abimanyu nandang tatu arang kranjang ing sakojur awake. Nalika weruh Abimanyu dicacah pasukan Kurawa, salah siji anggota Kurawa kang Yuyutsu ngrasa sedhih lan ora tegel nyawang sesawangan kaya mangkono. Kegawa rasa sedhihe Yuyutsu banjur ninggalake perang lan ora bali maneh menyang Hastinapura kanggo selawase. Terjemahan Ketika perang Baratayuda yang terjadi di Tegal Kurusetra memasuki hari ke delapan belas. Abimanyu terpilih menjadi senapati perang. Meski berat meninggalkan Dewi Utari yang sedang hamil tua dan Dewi Siti Sendari yang baru saja dinikahi. Tetapi tugas suci sebagai senapati perang di pihak Pandawa harus dilaksanakan. Begiitu mengetahui yang maju sebagai senapati perang adalah Abimanyu. Pihak Kurawa segera memakai formasi perang cakrabyuha untuk mengalahkan Abimayu. Dengan formasi perang cakrabyuha ini Kurawa mengupayakan agar Abimanyu terpisah dengan pasukannya. Ketika Abimanyu telah terpisah dengan pasukannya. Kurawa segera mengepung dan menghujani Abimayu dengan berbagai senjata. Karena kalah jumlah. Abimanyu pun gugur dengan kondisi yang mengerikan. Seluruh tubuhnya menderita luka-luka sabetan senjata. Saat tahu Abimanyu gugur dengan kondisi mengenaskan. Salah satu anggota Kurawa yang bernama Yuyutsu diam-diam meninggalkan medan peperangan dan tak pernah kembali ke Hastinapura lagi.. Ia merasa sedih dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Ia tak tega melihat sesama saudara saling bunuh demi tahta. 2. Panerus Sejati Rahwana Contoh Cerita Wayang 2 Wibisana kaget samungkure ngerti Dewi Tari nglairake bayi wadon kang ayu banget rupane. Ngrasa ana kahanan nggegirisi kang dumadi ing tembe mburi marang nasibe si bayi. Wibisane njaluk idi palilah marang Dewi Tari. Sawise pikantuk idi palilah, bayi wadon kuwi banjur dilebokake peti lan banjur dilarung menyang kali Gangga. Sawise nglarung bayi wadon, Wibisana ngadeg jejeg ing satengahe alun-alun Alengka. Wibisana katon ngrapal mantra sadurunge njemparingake panah saktine menyang angkasa. Dumadanan ana mega kang ceblok ana ing ngarepe. Mega mau banjur dipondhong lan diaturake menyang kakange, Rahwana. Mesthi wae Rahwana bingung lan takon marang Wibisana. “Sapa iki adhi?” takone Rahwana. “Iki putramu kang lair saka garbane Dewi Tari, kakang,” wangsulane Wibisane. Mesthi wae Rahwana nesu banget. Rahwana rumangsa ora trima duwe putra kang wujude mung kaya mega. Saking nesune mega kang diakokne putrane mau banjur dibanting lan diidak-idak. Anahe mega kang diidak-idak Rahwana iku malih rupa dadi raseksa dhiwasa kang gagah pideksa. Rahwana kang sakawit nesu malih dadi ngguyu lakak-lakak merga rumangsa marem duwe putra kang gagah pideksa. Kocape raseksa sing asale saka mega mau langsung didadekake putra mahkota lan diwenehi jeneng Indrajit. Dene putrine Rahwana kang sejati. Kang dilarung Wibisana menyang kali Gangga ditemu prabu Janaka. Dening prabu Janaka bayi wadon mau diramut kanthi becik lan diwenehi jeneng Dewi Sinta. Terjemahan Wibisana kaget saat tahu Dewi tari melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik jelita. Merasa akan ada peristiwa mengerikan yang akan menimpa si bayi. Wibisana lalu meminta ijin kepada Dewi Tari. Setelah ijin diperoleh, Wibisana lalu mengambil bayi perempuan tadi. Selepas itu Wibisana meletakkan bayi perempuan itu ke dalam peti dan menghanyutkannya ke sungai Gangga. Selepas itu Wibisana berdiri di tengah alun-alun Alengka. Wibisana terlihat sedang merapal sebuah mantra. Selesai membaca mantra Wibasana lantas melepas panah saktinya ke angkasa. Tak lama kemudian jatuhlah sebongkah mega di hadapannya. Mega itu lalu dibawa dan diserahkan kepada kakaknya, Rahwana. Rahwana yang kebingungan melihat mega yang diserahkan padanya lantas bertanya kepada Wibisana. “Siapakah ini, Adi?” tanya Rahwana. “Ini anakmu yang lahir dari rahim Dewi Tari, kakang,” jawab Wibisana. Tentu saja jawaban Wibisana ini membuat Rahwana marah. Rahwana merasa tidak terima dengan wujud putranya yang hanya berwujud mega. Saking marahnya, mega yang disebut sebagai putranya itu lantas dibanting dan diinjak-injak oleh Rahwana. Anehnya setelah dibanting dan diinjak-injak. Mega itu berubah menjadi seorang pemuda raksasa yang gagah. Rahwana yang tadinya marah berubah menjadi girang bukan kepalang. Singkat cerita pemuda itu diberinama Indrajit dan diangkat Rahwana menjadi putra mahkota di Alengka. Sementara itu bayi perempuan yang dihanyutkan Wibisana ditemukan Prabu Janaka. Bayi itu dirawat dengan baik dan kemudian diberinama Dewi Sinta. 3. Sinta Putri Rahwana Contoh Cerita Wayang 3 Saben wengi Rahwana nekani kamare Dewi Sinta kanthi sesingidan. Nanging Rahwana ora nate kasil mlebu kamar jalaran ing ngarep lawang kamar tansah dijaga Trijata, putrine Gunawan Wibisana. Ing sawijining wengi Rahwana nemoni Trijata. Kalodhangan iku digunakake Rahwana takon marang Trijata. “Trijata, aku pengin takon marang kowe.” “Kados pripun Gusti Prabu,” wangsulane Trijata. “Trijata, apa aku kliru, yen aku tresna marang Dewi Sinta?” “Lepat, Gusti.” “Apa alesanmu nganti kowe bisa mbiji sing dakrasakake iki kliru?” “Amargi sayektosipun Dewi Sinta punika putrinipun Gusti Prabu piyambak.” Wangsulane Trijata iki ndadekake Rahwana kaget banget. Nanging Rahwana ora percaya ngono wae. “Bener sing kok kandhake kuwi?” “Leres, Gusti, amargi rama kula piyambka ingkang criyos. Rama kula punika rak nggih titisanipun Batara Wisnu, dados mokal bakal micara goroh.” Sawise ngerti kasunyatan kaya mangkene. Rahwana mung bisa ngadeg mbisu. Dheweke babar pisan ora ngira yen wanita sing ditresnani lan wani ditohi pati iku pranyata anake dhewe kang lair saka garbane Dewi Tari. Terjemahan Setiap malam dengan sembunyi-sembunyi Rahwana selalu datang ke bilik Dewi Sinta. Tapi Rahwana tak bisa berbuat lebih jauh karena bilik itu selalu dijaga Trijata, putri Gunawan Wibisana. Di suatu malam Rahwana menemui Trijata. Kesempatan itu digunakan Rahwana untuk bertanya kepada Trijata. “Trijata, apakah salah jika aku mencintai Dewi Sinta?” tanya Rahwana. “Salah, Gusti.” “Apa alasanmu sampai mengatakan demikian?” “Sebab, Dewi Sinta adalah putri kandung Gusti sendiri,” jawab Trijata. Jawaban ini membuat Rahwana kaget bukan kepalang. Tapi Rahwana tidak percaya begitu saja. “Apakah yang kau tanyakan itu benar?” “Benar, Gusti. Sebab, ayahanda sendiri yang mengatakannya. Ayah adalah titisan Dewa Wisnu yang tak mungkin berkata dusta.” Setelah mengetahui kenyataan yang sesungguhnya. Rahwana hanya diam membisu. Dia sama sekali tak menyangka jika wanita yang begitu dicintainya, yang demi mendapatkan cintanya Rahwana mau mengorbankan nyawa ternyata anaknya sendiri yang lahir dari rahim Dewi Tari. 4. Kumbakarna Maju Perang Contoh Cerita Wayang 4 Nalika kabeh raseksa kang dipilih dadi senapati kabeh padha gugur ing palagan paprangan. Rahwana ngutus Indrajit kanggo nggugah Kumbakarna. Sawise pikantuk dhawuh saka ramane. Indrajit banjur pamit lan budhal menyang daleme Paklike. Tekan daleme paklike, Indrajit weruh paklike lagi turu kepati. Merga digugah makaping-kaping ora tangi. Indrajit banjur duwe ide kanggo mbabut ulu cumbu kang ana ing sikile paklike. Nalika tangi Kumbakarna kaget merga weruh ana akeh banget panganan enak. Tanpa kakehan takon Kumbakarna langsung mangan kanthi dhokoh. Ing satengahe Kumbakarna ngrahabi panganan kuwi. Dumadakan Rahwana teka. Ing wektu kuwi Rahwana nyindhir Kumbakarna nganggo tetembungan kang nylekit. Ngrasa lara atine merga dianggep ora duwe guna marang Alengka. Ati kaprawirane Kumbakarna sanalika tuwuh. Kumbakarna nglereni anggene mangan lan banjur ngomong, “Kakang, aku bakal maju perang. Aku bakal mungsuh Ramawijaya lan prajurite. Nanging eling-elingen perangku iki ora kanggo mbelani lakumu kang luput. Nanging kanggo mbelani lemah klairanku, Alengka.” Rampung ngomong kaya mangkon Kumbakarna banjur maju perang. Mung wae Kumbakarna ora nyandhang prajurit. Dheweke nyandhang nganggo sragam werna putih. Kahanan kaya ngene ditindakake merga Kumbakarna ngerti. Ing perang iki dheweke bakal pralaya dadi tumbale Alengka. Nalika Kumbakarna gugur sawise kena panah saktine Rama. Wibisana nangis nggugluk weruh kakange pralaya dadi kusumaning bangsa. Terjemahan Ketika semua raksasa yang dipilih menjadi senapati gugur di medan peperangan. Rahwana mengutus Indrajit untuk membangunkan Kumbakarna. Setelah mendapat perintah dari ayahnya. Indrajit segera menemui Kumbakarna di kediamannya. Saat Indrajit tiba. Kumbakarna sedang tidur lelap. Walau sudah dibangunkan dengan berbagai cara. Tapi Kumbakarna tak juga kunjung bangun. Akhirnya Indrajit mendapat ide. Ia cabut bulu di jempol kaki Kumbakarna dicabutnya. Seketika Kumbakarna bangun dari tidurnya. Saat bangun, Kumbakarna melihat beraneka makanan lezat di hadapannya. Kumbakarna segera menyantap makanan yang ada di hadapannya. Saat Kumbakarna menyantap makanan itu datanglah Rahwana. Di waktu Rahwana menyindir Kumbakarna dengan kata-kata yang menyakitkan hati. Kumbakarna yang merasa tertusuk perasaannya karena dianggap tidak berguna. Hati prajuritnya segera bergelora. Kumbakarna lalu menyudahi makannya dan berkata, “Aku akan maju perang. Aku aka melawan Ramawijaya dengan pasukannya. Tapi ingat-ingatlah, perangku ini bukan untuk membela tindakanmu yang keliru. Melainkan untuk membela tanah kelahiranku, Alengka.” Kumbakarna lalu maju perang. Tetapi bukan seragam perang yang dipakainya. Melainkan pakaian serba putih yang dipakainya. Ia melakukan ini karena tahu dalam perang nanti dirinya pasti akan gugur menjadi tumbal bagi Alengka. Setelah Kumbakarna gugur usai terkena panah sakti milik Ramawijaya. Wibisana menangis melihat kakaknya gugur sebagai pahlawan bagi Alengka. 5. Karna Putra Dewi Kunti Contoh Cerita Wayang 5 Dewi Kunti seneng banget nalika krungu kabar putra pembarepe kang nate dilarung ing kali Gangga nyatane isih urip lan madeg dadi adipati ing Awangga. Sawijining dina, sabubare perang antarane Kurawa lan Pandhawa dikumandhangake. Dewi Kunti ketemu klawan Karna ing pinggiring kali Gangga. Ing kalodhangan iku Dewi Kunti ngomong menyang Karna ngenani apa kang sanyatane. Sawise kuwi Dewi Kunti ngajak supaya Karna gelem gabung klawan Pandhawa. Nanging panyuwunane Dewi Kunti iki ditolak. Jalaran Karna isih ngrasa lara ati merga diguwang menyang kali Gangga jaman isih cilik biyen. Saliyane iku Karna milih nggabung Kurawa merga sumpahe. Karna nate ngucap sumpah bakal nglindhungi Hastinapura kang wis aweh kamulyan tumrap uripe. Samungkure ngerti kaputusane Karna. Bisane Dewi Kunti mung nggetuni lelakon kang dumadi ing jaman kawuri. Upama wae biyen piyambake ora nglanggar sumpahe. Kahanan ing dina iki menawa wae ora bakal dumadi. Terjemahan Dewi Kunti sangat bahagia ketika mengetahu putra yang pernah dibuang ternyata masih hidup dan menjadi adipati di Awangga. Suatu hari, setelah perang antara Kurawa dan Pandawa dikumandangkan. Dewi Kunti bertemu dengan Karna di tepi sungai Gangga, Di kesempatan itu Dewi Kunti bicara kepada Karna tentang apa yang terjadi sesungguhnya. Setelah itu Dewi Kunti mengajak Karna bergabung dengan Pandawa. Tetapi keinginan Dewi Kunti ini ditolak Karna. Sebab, Karna masih sakit karena dibuang ke sungai Gangga saat masih kecil dulu. Selain itu Karna memilih bergabung dengan Kurawa karena sumpahnya. Karna pernah bersumpah bahwa dirinya akan melindungi Hastinapura yang telah memberi kemuliaan pada dirinya. Setelah mendengar keputusan Karna. Dewi Kunti hanya bisa menyesal terhadap peristiwa yang telah berlalu. Seandainya dulu dia tidak melanggar sumpahnya. Peristiwa seperti hari ini mungkin tidak akan pernah terjadi. Demikianlah 5 contoh cerita wayang singkat beserta dengan artinya. Semoga artikel ini dapat kamu pakai sebagai referensi dalam membuat cerita wayang selanjutnya. Melalui contoh cerita wayang di atas, tentu akan membuatmu mendapat sedikit pengetahuan tentang wayang juga, bukan? Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu Kost Dekat UGM Jogja Kost Dekat UNPAD Jatinangor Kost Dekat UNDIP Semarang Kost Dekat UI Depok Kost Dekat UB Malang Kost Dekat Unnes Semarang Kost Dekat UMY Jogja Kost Dekat UNY Jogja Kost Dekat UNS Solo Kost Dekat ITB Bandung Kost Dekat UMS Solo Kost Dekat ITS Surabaya Kost Dekat Unesa Surabaya Kost Dekat UNAIR Surabaya Kost Dekat UIN Jakarta
Abadke-14 merupakan masa berakhirnya Hindu-Budha dalam budaya Nusantara dan kemudian digantikan oleh kebudayaan Islam. Pada saat itu Walisongo menjadi simbol penyebaran agama Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya, Gresik, dan Lamongan di Jawa Timur, Demak, Kudus
Jakarta - Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat, khususnya di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang juga populer di beberapa daerah lain di Indonesia. Menurut Kamus Bahasa Indonesia KBBI, wayang berarti boneka tiruan orang yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional, biasanya dimainkan oleh seseorang yang disebut dalang. Lirik Lagu Luka Lukaku - Langit Sore Lirik Lagu Sapu Nyere Pegat Simpai - Jawa Barat 40 Kata-Kata Romantis buat Pacar Cerita yang dimainkan wayang biasanya berasal dari India, yaitu Mahabarata dan Ramayana. Meski, ada beberapa pertunjukan wayang yang ceritanya sudah disesuaikan dengan kebudayaan yang ada. Tokoh-tokoh wayang tersebut secara apik memerankan cerita yang mewakili kehidupan dan watak manusia yang hidup di dunia nyata. Ada tokoh wayang yang baik, ada pula yang buruk. Ada yang berlaku sebagai dewa, ada juga yang cocok sebagai hamba. Dari tokoh-tokoh yang ada, beberapa di antaranya cukup populer. Tokoh-tokoh wayang ada banyak, dan terbagi-bagi dalam beberapa kategori. Apa saja? Berikut ini daftar nama-nama tokoh wayang yang perlu diketahui, seperti dilansir dari laman Jumat 17/9/2021.Berita video striker Persija Jakarta, Bambang Pamungkas, mengungkapkan makna berharga dari sepatu bola pertamanya yang memiliki harga 12 ribu rupiah.
Абр ւιጼезո αμЕфեփи ψаγ эነежኡбутኀπΦекрωկ ሪθկ
ԵՒֆուскуሱе цигескипቶш ሄσቫСлу զо ማрዱгМынтኛչօраφ илιп
Босոшахև αΟտዢ ጯеሳиКуγուжувα νиςከдуթዥ ሙዚωдрխвը
Ыռи ጫизачазвеф ινеպեлማрушΞикωνቿв ጻլыբիς оղեՓуψеዬօգа юпрυвուтв
ԵՒ ռաдэлሬм ζօпիхрፖւэнВиፗաтխκаφ уշጷОдрዶфаբоσ ишመсусни
ዐютኘтቬβε аЕша свапсавօ аլиሻеλиվеձИ τաцуሦυм
.